Selasa, 22 November 2016

TUGAS 2.1 Analisis Ekonomi Dari Program-Program Kesehatan Tinjauan Kepustakaan

BAB I
PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Sifat dari ilmu ekonomi kesehatan dapat dejelaskan dengan baik melalui pembatasan mengenai ilmu ekonomi, yaitu : “ilmu mengenai bagaimana individu atau masyarakat melakukan pilihan, dengan atau tanpa penggunaan uang, mengerjakan sumber daya produktif yang langka yang memiliki berbagai alternative penggunaan, untuk menghasilkan bermacam barang dan membagikannya untuk keperluan konsumsi, pada saat ini atau dimasa yang akan dating, bagi orang-orang ataupun kelompok-kelompok dalam masyarakat. Iimu ini juga menganalisis semua biaya dan manfaat dari perbaikan pola-pola alokasi sumber daya yang ada”. (Samuelson 1979).
            Analisis atas program-program kesehatan merupakan usaha penerapan teori dan kaidah ekonomi ke dalam sektor kesehatan. Usaha ini tampaknya menjadi semakin terasa penting apalagi ketika perekonomian dunia, mengalami tekanan depresi. Sehingga usaha untuk melakuakan efisiensi di segala sektor muncul kepermukaan. Sebenarnya penerapan ilmu ekonomi ke dalam sektor kesehatan masih mengalami proses pematangan lebih lanjut. Dalam pada itu efisiensi di sini diartikan apabila dalam pelaksanaan program kesehatan tersebut tidak mungkin lagi dapat menekan lebih lanjut biaya yang digunakan. Atau juga tidak dapat lagi dilakuakan pengalihan alokasi sumber ekonomi dari satu program atau kegiatan ke kegiatan lain tanpa mengganggu target output dari program yang sumbernya di alihkan tadi (Currin 1987).








BAB II
PEMBAHASAN
2.1  Analisis Ekonomi Dari Program-Program Kesehatan Tinjauan Kepustakaan
Batasan diatas menekankan bahwa ilmu ekonomi merupakan suatu studi mengenai kelengkapan dan pilihan, misalnya bagaimana cara memilih kombinasi yang terbaik dari sumber daya yang ada untuk keperluan cara penanganan pelayanan pada pasien di rumah sakit, ataupun bagaimana cara mengalokasikan sumber daya yang tersedia sebaik-baiknya dengan berbagai alternative yang mungkin untuk tujuan perbaikan tingkat kesehantan. Batasan tersebut tidak menghambat penggunaan ilmu ekonomi bagi berbagai kegiatan manusia. Ilmu tetap dapat diterapkan bagi bermacam persoalan yang diwarnai oleh kelangkaan pilihan Oleh karenanya, ilmu ekonomi yang memiliki sifat-sifat tersebut diatas sangat tepat digunakan dalam sektor-sektor kesehatan di negara-negara sedang berkembang karena negara-negara tersebut menghadapi kelangkaan sumber daya yang dimiliki.
Sementara itu ilmu ekonomi kesehatan secara umum dapat dianggap sebagai penerapan dari teori-teori, konsep-konsep dan teknik-teknik di dalam ilmu ekonomi pada sektor kesehatan. Oleh . karenanya, berhubungan erat dengan masalah alokasi sumber daya untuk berbagai kegitan yang bertujuan meningkatkan derajat kesehatan, sumber daya yang digunakan dalam pelayanan kesehatan, organisasi dan pembiayaan lembaga-lembaga yang memberikan pelayanan kesehatan, efesiensi dalam penggunaan dan alokasi sumber daya untuk tujuan-tujuan yang bersifat kesehatan, serta pengaruh dari program-program pencegahan, pengobatan dan rehabilitasi pelayanan kesehatan bagi perorangan serta masyarakat (Lee and Mills1979).
Bentuk pendekatan yang digunakan ilmu ekonomi bagi sektor kesehatan dapat digambarkan sebagai : “Keinginan untuk menjelaskan suatu tujuan atau suatu kumpulan tujuan yang telah ditetapkan yang dapat dinilai dan diawasi melalui kebjiaksanaan., keinginan untuk mentukan suatu fungsi produksi,pengakuan atas pentingnya tingkah laku manusia seperti juga teknologi dan pengaruh lingkungan didalam hubungan dengan sebab-sebab, pencegahan, pengobatan dan pelayanan penderita atas suatu penyakit” (Culyer 1981).
Ilmu ekonomi berdasar pada asumsi rasional, objektif dan ukuran-ukuran kuantitatif dalam memilih alternatif-alternatif investasi yang tersedia, baik secara idividu maupun masyarakat. Karena kelangkaan sumber-sumber masyarakat , penggunaan sumber daya ini untuk suatu investasi yang khusus akan meniadakan kemungkinan menggunakan sumber daya yang sama untuk investasi lain. Dalam sektor masyarkat atau negara, sumber daya mungkin saja dialokasikan untuk berbagai proyek termasuk : pertanian, pendidikan, kesehatan, perumahan dan pelestarian lingkungan. Sumber daya yang sama ini bisa juga digunakan di sektor swasta untuk berbgai barang dan jasa. Maka, terdapat suatu opportunity cost yang berhubungan dengan setiap keputusan mengenai alokasi sumber daya ini. Opportunity cost merupakan penilaian dari sumber daya tersebut dalam berbagai alternative kegiatan.
Dalam menganalisis biaya dari system pelayanan kesehatan, para ekonom seringkali mengukur nilai dari sumber daya yang digunakan untuk menghasilkan tingkat pelayanan tertentu. Untuk mengukur hasilnya, Cohen (1967) menggunakan indeks tertimbang dari beberapa ukuran tingkat pelayanan tertentu termasuk jumlah hari di rumah sakit, tata cara sinar-x, tes laboratorium, jumlah kunjungan dan operasi. Leslie (1978) membahas jumlah dan luasnya pendengar sebagai ukuran dari daya jangkau atau tingkat pelayanan dari program-program pendidikan kesehatan.
Analisis cost-effectivenesess merupakan cara memilih untuk menilai program yang terbaik bilamana beberapa program yang berbeda dengan tujuan yang sama tersedia untuk dipilih (Thompson 1980). Dalam menganalisis biaya suatu penyakit, analisis cost-effectiveness mendasarkan pada perbandingan dari biaya suatu program pemberantasan tertentu dan akibat dari program tersebut dalam bentuk perkiraan dari kematian dan kasus yang bisa dicegah (Quade 1979).
Penghitungan manfaat dan biaya ekonomis dari suatu program kesehatan dapat menjadi alat yang penting, khususnya bagi perencanaan pembangunan ekomoni negara-negara di Asia, Afrika dan Afrika Selatan. Untuk negara-negara ini harga yang nyata bagi program-program kesehatan seringkali termasuk juga tekanan akibat pertumbuhan penduduk dan tidak semata-mata pengeluaran untuk proyek-proyek kesehatan. Tekanan ini semakin nyata karena penurunan kematian sebagai akibat pemakaian teknik-teknik kesehatan masyarakat modern. Menjadi pertanyaan selanjutnya, apakah negara-negara ini bersedia membayar untuk penurunan khusus dalam tingkat kesakitan dalam suatu penyakit dan masalah-masalah yang berhubungan.
Berbgai teknik analisis yang di uraikan mempunyai kelemahan masing-masing. Didalam analisis biaya-manfaat misalnya, kesulitan menghitung manfaat dalam nilai uang merupakan hambatan yang utama.


2.2   Beberapa Cara Analisis Ekonomi Untuk Program Kesehatan
Ada beberapa kesulitan untuk dapat menerapkan dengan baik ilmu ekonomi ke dalam bidang kesehatan. Yang pertama menyangkut operasionalisasi terminology kesehatan hingga dapat diukur secara ekonomis. Yang kedua, adalah kesulitan untuk mengukur hasil operasionalisasi tersebut, terutama yang menyangkut masalah pengukuran output kesehatan itu sendiri. Apalagi kalua diingat bahwa kesehatan itu sebenarya bukanlah barang dalam pengertian ekonomi. Sebab kesehaan tidak dapat diperjualbelikan (nontradeable). Lain halnya dengan perawatan kesehatan, yang dapat diperjualbelikan dan mempunyai nilai atau harga. Karenanya, sebenarnya ilmu ekonomi akan lebih banya dan lebih relevan peranannya untuk membicarakan masalah perawatan kesehatan daripada kesehatannya sendiri (Mc Guire et al 1988).
            Operasional terminology kesehatan mempunyai dua sisi bahasan, yaitu yang berkaitan dengan cakupan aspek bahasan dan yang berkaitan dengan kedalaman aspek bahasan. Pada kedua aspek inilah yang nantinya akan diukur secara ekonomis. Cakupan bahasan yang dimaksud disini adalah aspek manakah dari kesehatan yang akan dibahas.
            Dalam mendekati berbagai kesulitan pengukuran output analisis ekonomi, pakar ekonomi kesehatan mencoba mengukur melalui tiga bentuk pendekatan. Yaitu pertama melalui pendekatan sumber daya manusia (human capital approach) yang pada awalnya dikembangkan oleh Grossman (1972) dan Evans (1972). Pendekatan yang kedua adalah dengan cara kemauan pasien untuk membayar (Willingness to pay/WTP approach) yang antara lain digunakan oleh Mooney (1977) dalam membahas tentang perhitungan manfaat pemberian pagar pada jalan bebas hambatan di Inggris Raya. Yang terakhir adalah dengan melalui manfaat dari status sehat itu sendiri (Utility of health status).
            Human capital approach pada dasarnya menghitung manfaat hasil perawatan kesehatan itu melalui berbagai kemampuan si pasien untuk menghasilkan produksi di masa mendatang, yaitu setelah ia sembuh dari penyakit yang dideritanya (produktivitas di kemudian hari).
            Pendekatan willingness to pay merupakan koreksi terhadap kelemahan dari pendekatan human capital, dimana dalam pendekatan ini penilaian output kesehatan lebih banyak ditawarkan kepada si pasien sendiri. Artinya sei pasien sendirilah yang menilai berapa dia mau membayar seandainya satatus kesehatannya yang jadi membaik dari kondisi saat ini.
            Metode yang paling umum digunakan untuk menganalisis ekonomi program kesehatan biasanya berbagi menjadi dua bagian poko, yang pertama adalah analisis ekonomi parsial, yaitu analisis ekonomi yang diterapkan hanya pada sisi input atau output saja dan bukannya kepada keduanya sekaligus. Sedangkan metode yang kedua biasa disebut sebagai analisis ekonomi secara menyeluruh (fully economic analysis) yaitu penganalisian program kesehatan yang merangkum sekaligus masalah input dan output program tersebut (Torrance, 1968).
            Metode pendekatan menyeluruh lazimnya dibagi menjadi tiga kelompok besar yang meliputi:
a.       Analisis minimisasi biaya (Cost-Minimization Analysis)
b.      Analisis efektivitas biaya (Cost-Effectiveness Analysis)
c.       Analisis biaya manfaat (Cost-Benefit Analysis)
Analisis minimisasi biaya menekankan pada upaya pencapaian target program dengan cara biaya program yang terkecil. Dengan demikian output yang hendak dicapai telah telah ditentukan terlebih dahulu kemudian dicari upaya pelaksanaannya yang akan menghasilkan biaya terkecil.cAnalisis efektivitas biaya mencari-cari pencapaian output yang maksimal dengan jumlah biaya yang telah ditentukan. Sehingga metode ini mencari maksimisasi output dengan biaya yang telah tertentu. Analisis biaya manfaat mencari tau seberapa jauh program yang dilaksanakan akan bermanfaat. Di dalam analisis ini yang dipersoalkan tersebut dapat lebih besar daripada biaya yanf dikeluarkan, baik dalam artian yang langsung maupun yang tidak langsung (Torrace, 1986).

Beberapa cara tentang metode  analisis ekonomi :
1.      Analisis Biaya (Cost Analisis)
Dalam menganaisis biaya dari sitem pelayana  kesehatan, para ekonom seringkali ,mengukur nilai dari sumber daya yang dugunakan untuk menghasilkan tingkat pelayanan tertentu. Kesulitan utama dari pengukuran-pengukuran tingkat pelayanan ini adalah tidak adanya atau pengaruh dai pelayanan tersebut. Olehkarenanya tingkat pelayanan haus dipandang sebagai petunjuk untuk membahas biaya. Dalam mengukur opportunity cost usaha diarahkan untuk menilai social dari sumber daya tersebut dalam berbagai alternative investasi. Olehkarenanya, bila sukarelawan dipakai dalam system kesehatan, perlu ditentukan nilai dari orang-orang ini.


2.      Analisi Biaya Manfaat (Cost Benefit Analysis)
Analisis Biaya Manfaat (CBA) merupakan suatu alat yang paling penting untuk membantu pengambilan keputusan dalam menentukan pilihannya, atau lazimnya metode ini akan menjamin pengambilan keputusan untuk dapat melakukan allocative afficiency (Mooney, 1986).
Pada dasarnya CBA menawarkan pebandingan antara seluruh biaya dan manfaat dari suatu program yang dibiayai dari dana masyarakat. Biaya yang dkeluarkan termasuk juga rencana pengeluaran yang terlihat dalam anggaran. Sedangkan manfaat didapat bila kerugian di masa dating bisa dicegah karena kebehasilan dari program tersebut.

Langkah-langkah Cost Benefit Analysis
Langkah-langkah yang dilakukan dalam CBA adalah sebagi berikut:
a.       Identifikasi para pengambil keputusan
Langkah ini bertujuan untuk menetapkan siapa yang akan dilibatkan dalam proses CBA, terutama untuk memberikan penilaian terhadap dampak suatu program atau alternative kebijaksanan secara menyeluruh.
b.      Identifikasi alternative-aternatif
Langkah ini bertujuan untuk mengetahui secara jelas alternative-alternatif apa yang tersedia di hadapan pengambilan keputusan, sehingga dapat dibandingkan baik biaya  maupun manfaat dari masing-masing alternative tersebut.
c.       Identifikasi biaya
Menurut definisi, biaya (cost) adalah pengorbanan sumber ekonomis yang diukur dalam satuan uang, yang telah terjadi tau mungkin akan terjadi. Biaya suatu program mencakup biaya itu sendiri dampak yang tidak diharapkan (disbenefit), maupun benefit yang hilang olehkarena sumber daya tidak dialokasikan kepada alternative lain (opportunity cost)
d.      Identifikasi manfaat
Untuk menghitung biaya langsung atau manfaat langsung suatu program, biasanya tidak begitu sulit. Todak demikian halnya dengan akibat-akibat tidak langsung. Oleh karena itu untuk program dampak tidak langsung sangat luas, misalnya dalam hal lingkungan, menghitung manfaat total (total benefit) menjadi sangat sulit.


e.       Transformasi dampak ke dalam nilai moneter
Semua biaya manfaat selanjutnya harus ditransformasikan ke dalam bentuk uang. Disini masalah-masalah sering timbul, mialnya bagaimana menilai lama hidup seseorang atas kebisingan lalu lintas, diukur dalam nilai uang.
f.        Discounting
Oleh karena efek (dampak) suatu rogram biasanya berlangsung lama, maka nilainilai biaya dan manfaat tadi harus disesuaikan, oleh karena nilainya memang berubah menurut perjalanan waktu. Hal ini dilakukan dengan tindakan discounting, yakni dengan menggunakan discount rate yang sesuai.. Discounting adalah penyesuaian nilai (uang) efek suatu program pada suatu waktu tertentu dalam nilai (uang) pada waktu yang berbeda. Untuk  itu dipergunakan discount rate, yakni suatu angka yang menggambarkan hubungan nilai uang tahun tertentu dengan nilai uang yang sama pada tahun berikutnya atau tahun sebelumnya. Biasanya discount rate disesuaikan dengan interest rate (suku bunga) yang berlaku dalam penjaminan uang.

g.      Penafsiran hasil Cost benefit analysis
Hasil perhitungan biaya dan manfaat selanjutnya ditafsirkan dengan melakukan perhitungan lebih lanjut.

3.      Analysis Cost Effectiveness
Analisis cost-effectiveness merupakan cara memilih untuk menilai program yang terbaik bila beberapa program yang berbeda dengan tujuan yang sama tersedia untuk dipilih (Theoson, 1980). Dalam  menganalisis suatu biaya dalam penyakit, analisis cost effectiveness mendasarkan pada perbandingan antara biaya suatu program pemberantasan tertentu dan akibat dari program tersebut dalam bantuk perkiraan dari kematian dan kasus yang bisa dicegah. (Quade, 1979).









BAB III
PENUTUP
3.1 Kesimpulan
Dalam menganalisis program-program kesehatan, peningkatan dan perbaikan harus selalu diusahakan terutama di bidang metodologi serta pengumpulan data, untuk menerapkan peralatan-peralatan ekonomi tersebut dalam menilai diperhatikan serta segera diselesaikan. Terlebih-lebih kalua dilihat kenyataan bahwa ilmu ekonomi yang tampak lebih jelas dan menonjol bagi persoalan-persoalan disektor kesehatan telah menyebabkan analisis ekonomi untuk sektor kesehatan berkembang dengan pesat serta secara meluas.
            Sementara itu perlu pula dipertimbangkan tentang bagaimana cara melakukan pilihan dari program berganda yang bersifat mutually exclusive dan yang tidak mutually axclusive. Persoalannya akan sangat relevan manakala suatu variable, misalkan dana pemerintah yang terbatas, menjadi pembatas dari alternative-alternatif  program tersebut dan keadaan seperti inilah yang sedang dihadapi oleh negara-negara berkembang termasuk Indonesia. Hal lain yang tampaknya sering menghambat penerapan metode tersebut adalah yang berkaitan dengan di level manakah program tersebut akan dilaksanakan.




DAFTAR PUSTAKA
Tjiptoherijanto,Prijono dan Budhi Soesetyo (2008). Ekonomi Kesehatan, Rineka Cipta. Jakarta



7 komentar: