BAB
I
PENDAHULUAN
1.1
Latar Belakang
Sifat
dari ilmu ekonomi kesehatan dapat dejelaskan dengan
baik melalui pembatasan mengenai ilmu ekonomi, yaitu : “ilmu mengenai bagaimana
individu atau masyarakat melakukan pilihan, dengan atau tanpa penggunaan uang,
mengerjakan sumber daya produktif yang langka yang memiliki berbagai
alternative penggunaan, untuk menghasilkan bermacam barang dan membagikannya
untuk keperluan konsumsi, pada saat ini atau dimasa yang akan dating, bagi
orang-orang ataupun kelompok-kelompok dalam masyarakat. Iimu ini juga
menganalisis semua biaya dan manfaat dari perbaikan pola-pola alokasi sumber
daya yang ada”. (Samuelson 1979).
Analisis atas program-program
kesehatan merupakan usaha penerapan teori dan kaidah ekonomi ke dalam sektor
kesehatan. Usaha ini tampaknya menjadi semakin terasa penting apalagi ketika
perekonomian dunia, mengalami tekanan depresi. Sehingga usaha untuk melakuakan
efisiensi di segala sektor muncul kepermukaan. Sebenarnya penerapan ilmu
ekonomi ke dalam sektor kesehatan masih mengalami proses pematangan lebih
lanjut. Dalam pada itu efisiensi di sini diartikan apabila dalam pelaksanaan
program kesehatan tersebut tidak mungkin lagi dapat menekan lebih lanjut biaya
yang digunakan. Atau juga tidak dapat lagi dilakuakan pengalihan alokasi sumber
ekonomi dari satu program atau kegiatan ke kegiatan lain tanpa mengganggu
target output dari program yang sumbernya di alihkan tadi (Currin 1987).
BAB
II
PEMBAHASAN
2.1 Analisis
Ekonomi Dari Program-Program Kesehatan Tinjauan Kepustakaan
Batasan
diatas menekankan bahwa ilmu ekonomi merupakan suatu studi mengenai kelengkapan
dan pilihan, misalnya bagaimana cara memilih kombinasi yang terbaik dari sumber
daya yang ada untuk keperluan cara penanganan pelayanan pada pasien di rumah
sakit, ataupun bagaimana cara mengalokasikan sumber daya yang tersedia
sebaik-baiknya dengan berbagai alternative yang mungkin untuk tujuan perbaikan
tingkat kesehantan. Batasan tersebut tidak menghambat penggunaan ilmu ekonomi
bagi berbagai kegiatan manusia. Ilmu tetap dapat diterapkan bagi bermacam
persoalan yang diwarnai oleh kelangkaan pilihan Oleh karenanya, ilmu ekonomi
yang memiliki sifat-sifat tersebut diatas sangat tepat digunakan dalam
sektor-sektor kesehatan di negara-negara sedang berkembang karena negara-negara
tersebut menghadapi kelangkaan sumber daya yang dimiliki.
Sementara
itu ilmu ekonomi kesehatan secara umum dapat dianggap sebagai penerapan dari
teori-teori, konsep-konsep dan teknik-teknik di dalam ilmu ekonomi pada sektor
kesehatan. Oleh . karenanya, berhubungan erat dengan masalah alokasi sumber
daya untuk berbagai kegitan yang bertujuan meningkatkan derajat kesehatan,
sumber daya yang digunakan dalam pelayanan kesehatan, organisasi dan pembiayaan
lembaga-lembaga yang memberikan pelayanan kesehatan, efesiensi dalam penggunaan
dan alokasi sumber daya untuk tujuan-tujuan yang bersifat kesehatan, serta
pengaruh dari program-program pencegahan, pengobatan dan rehabilitasi pelayanan
kesehatan bagi perorangan serta masyarakat (Lee and Mills1979).
Bentuk
pendekatan yang digunakan ilmu ekonomi bagi sektor kesehatan dapat digambarkan
sebagai : “Keinginan untuk menjelaskan suatu tujuan atau suatu kumpulan tujuan
yang telah ditetapkan yang dapat dinilai dan diawasi melalui kebjiaksanaan.,
keinginan untuk mentukan suatu fungsi produksi,pengakuan atas pentingnya
tingkah laku manusia seperti juga teknologi dan pengaruh lingkungan didalam
hubungan dengan sebab-sebab, pencegahan, pengobatan dan pelayanan penderita
atas suatu penyakit” (Culyer 1981).
Ilmu
ekonomi berdasar pada asumsi rasional, objektif dan ukuran-ukuran kuantitatif dalam
memilih alternatif-alternatif investasi yang tersedia, baik secara idividu
maupun masyarakat. Karena kelangkaan sumber-sumber masyarakat , penggunaan
sumber daya ini untuk suatu investasi yang khusus akan meniadakan kemungkinan
menggunakan sumber daya yang sama untuk investasi lain. Dalam sektor masyarkat
atau negara, sumber daya mungkin saja dialokasikan untuk berbagai proyek
termasuk : pertanian, pendidikan, kesehatan, perumahan dan pelestarian
lingkungan. Sumber daya yang sama ini bisa juga digunakan di sektor swasta
untuk berbgai barang dan jasa. Maka, terdapat suatu opportunity cost yang
berhubungan dengan setiap keputusan mengenai alokasi sumber daya ini.
Opportunity cost merupakan penilaian dari sumber daya tersebut dalam berbagai
alternative kegiatan.
Dalam
menganalisis biaya dari system pelayanan kesehatan, para ekonom seringkali
mengukur nilai dari sumber daya yang digunakan untuk menghasilkan tingkat
pelayanan tertentu. Untuk mengukur hasilnya, Cohen (1967) menggunakan indeks
tertimbang dari beberapa ukuran tingkat pelayanan tertentu termasuk jumlah hari
di rumah sakit, tata cara sinar-x, tes laboratorium, jumlah kunjungan dan
operasi. Leslie (1978) membahas jumlah dan luasnya pendengar sebagai ukuran
dari daya jangkau atau tingkat pelayanan dari program-program pendidikan
kesehatan.
Analisis
cost-effectivenesess merupakan cara memilih untuk menilai program yang terbaik
bilamana beberapa program yang berbeda dengan tujuan yang sama tersedia untuk
dipilih (Thompson 1980). Dalam menganalisis biaya suatu penyakit, analisis
cost-effectiveness mendasarkan pada perbandingan dari biaya suatu program
pemberantasan tertentu dan akibat dari program tersebut dalam bentuk perkiraan
dari kematian dan kasus yang bisa dicegah (Quade 1979).
Penghitungan
manfaat dan biaya ekonomis dari suatu program kesehatan dapat menjadi alat yang
penting, khususnya bagi perencanaan pembangunan ekomoni negara-negara di Asia,
Afrika dan Afrika Selatan. Untuk negara-negara ini harga yang nyata bagi
program-program kesehatan seringkali termasuk juga tekanan akibat pertumbuhan
penduduk dan tidak semata-mata pengeluaran untuk proyek-proyek kesehatan.
Tekanan ini semakin nyata karena penurunan kematian sebagai akibat pemakaian
teknik-teknik kesehatan masyarakat modern. Menjadi pertanyaan selanjutnya,
apakah negara-negara ini bersedia membayar untuk penurunan khusus dalam tingkat
kesakitan dalam suatu penyakit dan masalah-masalah yang berhubungan.
Berbgai
teknik analisis yang di uraikan mempunyai kelemahan masing-masing. Didalam
analisis biaya-manfaat misalnya, kesulitan menghitung manfaat dalam nilai uang
merupakan hambatan yang utama.
2.2 Beberapa Cara Analisis Ekonomi Untuk Program
Kesehatan
Ada
beberapa kesulitan untuk dapat menerapkan dengan baik ilmu ekonomi ke dalam
bidang kesehatan. Yang pertama menyangkut operasionalisasi terminology
kesehatan hingga dapat diukur secara ekonomis. Yang kedua, adalah kesulitan
untuk mengukur hasil operasionalisasi tersebut, terutama yang menyangkut masalah
pengukuran output kesehatan itu sendiri. Apalagi kalua diingat bahwa kesehatan
itu sebenarya bukanlah barang dalam pengertian ekonomi. Sebab kesehaan tidak
dapat diperjualbelikan (nontradeable). Lain halnya dengan perawatan kesehatan, yang
dapat diperjualbelikan dan mempunyai nilai atau harga. Karenanya, sebenarnya
ilmu ekonomi akan lebih banya dan lebih relevan peranannya untuk membicarakan
masalah perawatan kesehatan daripada kesehatannya sendiri (Mc Guire et al
1988).
Operasional terminology kesehatan
mempunyai dua sisi bahasan, yaitu yang berkaitan dengan cakupan aspek bahasan
dan yang berkaitan dengan kedalaman aspek bahasan. Pada kedua aspek inilah yang
nantinya akan diukur secara ekonomis. Cakupan bahasan yang dimaksud disini
adalah aspek manakah dari kesehatan yang akan dibahas.
Dalam mendekati berbagai kesulitan
pengukuran output analisis ekonomi, pakar ekonomi kesehatan mencoba mengukur
melalui tiga bentuk pendekatan. Yaitu pertama melalui pendekatan sumber daya
manusia (human capital approach) yang pada awalnya dikembangkan oleh Grossman
(1972) dan Evans (1972). Pendekatan yang kedua adalah dengan cara kemauan
pasien untuk membayar (Willingness to pay/WTP approach) yang antara lain
digunakan oleh Mooney (1977) dalam membahas tentang perhitungan manfaat
pemberian pagar pada jalan bebas hambatan di Inggris Raya. Yang terakhir adalah
dengan melalui manfaat dari status sehat itu sendiri (Utility of health
status).
Human capital approach pada dasarnya
menghitung manfaat hasil perawatan kesehatan itu melalui berbagai kemampuan si
pasien untuk menghasilkan produksi di masa mendatang, yaitu setelah ia sembuh
dari penyakit yang dideritanya (produktivitas di kemudian hari).
Pendekatan willingness to pay
merupakan koreksi terhadap kelemahan dari pendekatan human capital, dimana dalam
pendekatan ini penilaian output kesehatan lebih banyak ditawarkan kepada si
pasien sendiri. Artinya sei pasien sendirilah yang menilai berapa dia mau
membayar seandainya satatus kesehatannya yang jadi membaik dari kondisi saat
ini.
Metode yang paling umum digunakan
untuk menganalisis ekonomi program kesehatan biasanya berbagi menjadi dua
bagian poko, yang pertama adalah analisis ekonomi parsial, yaitu analisis
ekonomi yang diterapkan hanya pada sisi input atau output saja dan bukannya
kepada keduanya sekaligus. Sedangkan metode yang kedua biasa disebut sebagai
analisis ekonomi secara menyeluruh (fully economic analysis) yaitu
penganalisian program kesehatan yang merangkum sekaligus masalah input dan
output program tersebut (Torrance, 1968).
Metode pendekatan menyeluruh lazimnya
dibagi menjadi tiga kelompok besar yang meliputi:
a. Analisis
minimisasi biaya (Cost-Minimization Analysis)
b. Analisis
efektivitas biaya (Cost-Effectiveness Analysis)
c. Analisis
biaya manfaat (Cost-Benefit Analysis)
Analisis minimisasi
biaya menekankan pada upaya pencapaian target program dengan cara biaya program
yang terkecil. Dengan demikian output yang hendak dicapai telah telah
ditentukan terlebih dahulu kemudian dicari upaya pelaksanaannya yang akan
menghasilkan biaya terkecil.cAnalisis efektivitas biaya mencari-cari pencapaian
output yang maksimal dengan jumlah biaya yang telah ditentukan. Sehingga metode
ini mencari maksimisasi output dengan biaya yang telah tertentu. Analisis biaya
manfaat mencari tau seberapa jauh program yang dilaksanakan akan bermanfaat. Di
dalam analisis ini yang dipersoalkan tersebut dapat lebih besar daripada biaya
yanf dikeluarkan, baik dalam artian yang langsung maupun yang tidak langsung
(Torrace, 1986).
Beberapa cara
tentang metode analisis ekonomi :
1. Analisis
Biaya (Cost Analisis)
Dalam menganaisis biaya dari sitem pelayana kesehatan, para ekonom seringkali ,mengukur
nilai dari sumber daya yang dugunakan untuk menghasilkan tingkat pelayanan
tertentu. Kesulitan utama dari pengukuran-pengukuran tingkat pelayanan ini
adalah tidak adanya atau pengaruh dai pelayanan tersebut. Olehkarenanya tingkat
pelayanan haus dipandang sebagai petunjuk untuk membahas biaya. Dalam mengukur
opportunity cost usaha diarahkan untuk menilai social dari sumber daya tersebut
dalam berbagai alternative investasi. Olehkarenanya, bila sukarelawan dipakai
dalam system kesehatan, perlu ditentukan nilai dari orang-orang ini.
2. Analisi
Biaya Manfaat (Cost Benefit Analysis)
Analisis Biaya Manfaat (CBA) merupakan suatu alat yang
paling penting untuk membantu pengambilan keputusan dalam menentukan
pilihannya, atau lazimnya metode ini akan menjamin pengambilan keputusan untuk
dapat melakukan allocative afficiency (Mooney, 1986).
Pada dasarnya CBA menawarkan pebandingan antara
seluruh biaya dan manfaat dari suatu program yang dibiayai dari dana
masyarakat. Biaya yang dkeluarkan termasuk juga rencana pengeluaran yang
terlihat dalam anggaran. Sedangkan manfaat didapat bila kerugian di masa dating
bisa dicegah karena kebehasilan dari program tersebut.
Langkah-langkah
Cost Benefit Analysis
Langkah-langkah
yang dilakukan dalam CBA adalah sebagi berikut:
a. Identifikasi
para pengambil keputusan
Langkah ini bertujuan
untuk menetapkan siapa yang akan dilibatkan dalam proses CBA, terutama untuk memberikan
penilaian terhadap dampak suatu program atau alternative kebijaksanan secara
menyeluruh.
b. Identifikasi
alternative-aternatif
Langkah ini bertujuan
untuk mengetahui secara jelas alternative-alternatif apa yang tersedia di
hadapan pengambilan keputusan, sehingga dapat dibandingkan baik biaya maupun manfaat dari masing-masing alternative
tersebut.
c. Identifikasi
biaya
Menurut definisi, biaya
(cost) adalah pengorbanan sumber ekonomis yang diukur dalam satuan uang, yang
telah terjadi tau mungkin akan terjadi. Biaya suatu program mencakup biaya itu
sendiri dampak yang tidak diharapkan (disbenefit), maupun benefit yang hilang
olehkarena sumber daya tidak dialokasikan kepada alternative lain (opportunity
cost)
d. Identifikasi
manfaat
Untuk menghitung biaya langsung
atau manfaat langsung suatu program, biasanya tidak begitu sulit. Todak
demikian halnya dengan akibat-akibat tidak langsung. Oleh karena itu untuk
program dampak tidak langsung sangat luas, misalnya dalam hal lingkungan,
menghitung manfaat total (total benefit) menjadi sangat sulit.
e. Transformasi
dampak ke dalam nilai moneter
Semua biaya manfaat
selanjutnya harus ditransformasikan ke dalam bentuk uang. Disini
masalah-masalah sering timbul, mialnya bagaimana menilai lama hidup seseorang
atas kebisingan lalu lintas, diukur dalam nilai uang.
f.
Discounting
Oleh
karena efek (dampak) suatu rogram biasanya berlangsung lama, maka nilainilai
biaya dan manfaat tadi harus disesuaikan, oleh karena nilainya memang berubah
menurut perjalanan waktu. Hal ini dilakukan dengan tindakan discounting, yakni
dengan menggunakan discount rate yang sesuai.. Discounting adalah penyesuaian
nilai (uang) efek suatu program pada suatu waktu tertentu dalam nilai (uang)
pada waktu yang berbeda. Untuk itu
dipergunakan discount rate, yakni suatu angka yang menggambarkan hubungan nilai
uang tahun tertentu dengan nilai uang yang sama pada tahun berikutnya atau
tahun sebelumnya. Biasanya discount rate disesuaikan dengan interest rate (suku
bunga) yang berlaku dalam penjaminan uang.
g. Penafsiran
hasil Cost benefit analysis
Hasil perhitungan biaya
dan manfaat selanjutnya ditafsirkan dengan melakukan perhitungan lebih lanjut.
3. Analysis
Cost Effectiveness
Analisis
cost-effectiveness merupakan cara memilih untuk menilai program yang terbaik
bila beberapa program yang berbeda dengan tujuan yang sama tersedia untuk
dipilih (Theoson, 1980). Dalam menganalisis
suatu biaya dalam penyakit, analisis cost effectiveness mendasarkan pada
perbandingan antara biaya suatu program pemberantasan tertentu dan akibat dari
program tersebut dalam bantuk perkiraan dari kematian dan kasus yang bisa
dicegah. (Quade, 1979).
BAB III
PENUTUP
3.1
Kesimpulan
Dalam
menganalisis program-program kesehatan, peningkatan dan perbaikan harus selalu
diusahakan terutama di bidang metodologi serta pengumpulan data, untuk
menerapkan peralatan-peralatan ekonomi tersebut dalam menilai diperhatikan
serta segera diselesaikan. Terlebih-lebih kalua dilihat kenyataan bahwa ilmu
ekonomi yang tampak lebih jelas dan menonjol bagi persoalan-persoalan disektor
kesehatan telah menyebabkan analisis ekonomi untuk sektor kesehatan berkembang
dengan pesat serta secara meluas.
Sementara itu perlu pula
dipertimbangkan tentang bagaimana cara melakukan pilihan dari program berganda
yang bersifat mutually exclusive dan yang tidak mutually axclusive.
Persoalannya akan sangat relevan manakala suatu variable, misalkan dana
pemerintah yang terbatas, menjadi pembatas dari alternative-alternatif program tersebut dan keadaan seperti inilah
yang sedang dihadapi oleh negara-negara berkembang termasuk Indonesia. Hal lain
yang tampaknya sering menghambat penerapan metode tersebut adalah yang
berkaitan dengan di level manakah program tersebut akan dilaksanakan.
DAFTAR
PUSTAKA
Tjiptoherijanto,Prijono
dan Budhi Soesetyo (2008). Ekonomi
Kesehatan, Rineka Cipta. Jakarta